[PERIKANAN]: KERUPUK TINGGI KALSIUM ; PEMANFAATAN CANGKANG KERANG HIJAU MELALUI APLIKASI TEKNOLOGI TEPAT GUNA DALAM PERBAIKAN LINGKUNGAN DAN KESEHATAN MASYARAKAT PESISIR

Pekerja Kerang hijau (Republika)

[PERIKANAN]: Budidaya Tiram Mutiara (bagian akhir)

Cangkang tiram telah lama digunakan sebelum adanya pembudidayaan tiram dilakukan. Cangkang tiram dapat dimanfaatkan sebagai hasil sampingan usaha, untuk menutub sebagian biaya operasi yang dikeluarkan dan sebagai pengeruk keuntungan bagi pengusahanya, juga dapat diandalkan sebagai penghasil devisa negara yang cukup potensial.

Cangkang tiram dapat diperoleh dari tiram yang sudah mati atau dimatikan karena sudah tidak memenuhi sarat untuk operasi mutiara bulat maupun blister. Dalam dunia perdagangan cangkang tiram dapat dogolongkan dalam kelas-kelas sebagai berikut:
(1) Kelas A:
Termasuk golongan yang paling mahal, dari narcenya yang masih bercahaya dan tidak terdapat noda –noda hitam.
(2) Kelas B
Dipilih karena narcenya masih bercahaya dan masih terdapat noda-noda hitam.
(3) Kelas C
Dipilih karena dari cangkang terdapat bekas lubang, terutama dari mutiara blister atau bagian narcenya masih bercahaya tapi sudah rusak dan banyak noda-noda hitam yang disebabkan oleh serangan cacing.
(4) Kelas D
Termasuk golongan cangkang yang diafkir dan tidak digunakan untuk ekspor. Warna narce sudah pudar dan tidak bercahaya lagi, ditemukan pada cangkang yang sudah lama mati dan terendam air laut.

Cangkang dari mutiara bundar biasanya termasuk kealas A yang harganya yang paling tinggi dan paling disukai, cangkang dari mutiara blister termasuk kelas C karena cangkangnya sudah banyak yang berlubang, walaupun narcenya masih bercahaya.

Adanya hasil sampingan dari cangkang dari usaha tiram dapat unutk kelangsungan usaha dan tambahan yang cukup berarti maupun tambahan keuntungan. Walaupun tiram yang dipelihara tidak semuanya menghasilkan mutiara yang diharapkan, tapi tiram yang dipelihara tersebut tetap menghasilkan cangkang dan daging.


Sumber bacaan
Aman; Adi, S; Diah, N, 1991, Pengamatan Pengaruh Penempatan IntiSetengah Bulat TerhadapPertumbuhan Tiram Mutiara (Pinctada maxima), Makalah Lomba Inovatif Produktif, Fak. Perikanan, Universitas Pancasakti, Tegal.
Dwiponggo, A, 1976, Mutiara Bab I (Umum), Lembaga Penelitian Perikanan Laut, Jakarta.
Mulyanto, 1987, Teknik Budidaya Laut Tiram Mutiara di Indonesia (Marine Cultured Tehnique of Pearl Oyster in Indonesia), Diklat Ahli Usaha perikanan, INFIS Manual Seri No. 45, Jakarta.
Sutaman, Ir., 1993, Tiram Mutiara, Teknik Budidaya & Proses pembuatan Mutiara, Cetakan pertama, Kanisius (Anggota IKAPI), Yokyakarta.
Winanto, T., 1991, Pembenihan Tiram Mutiara, Buletin No. 1. Balai Budidaya laut (BBL), Lampung.
_______ , T.; Soehadi, P; Silver, B.D., 1991, Pemilihan Lokasi Budidaya Tiram Mutiara, Buletin No. 3, Balai Budidaya Laut (BBL), Lampung.

[PERIKANAN]: Budidaya Tiram Mutiara (bagian 4)

CARA PEMBUATAN TIRAM MUTIARA
            Proses terbentuknya mutiara terjadi dalam tubuh mahkluk hidup, tergantung dari teknologi yang diterapkan dan dari lingkungan ar yang mendukungnya. Ketiganya saling menunjang pada mutiara yang dihasilkan sesuai jumlah dan mutu yang diharapkan. Mutiara terjadi karena respon untuk menolak sakit dari benda asing yang masuk ke dalam tubuhnya. Membentuk lapisan mutiara yang mengelilingi inti secara alami. Inti terbuat dari plastik atau manik-manik setengah lingkaran dari bahan kapur. Proses pembuatan mutiara  untuk menghasilkan  mutiara bulat dan setengah bulat (blister). Mutiara blister biasanya dilakukan pada tiram yang mengalami kegagalan untuk membuat mutiara bulat atau yang menghasilkan mutiara bulat yang kualitas kurang baik.

  1. Proses Pembuatan Mutiara
 a.         Benih siap oiperasi
·         Berunur 2-3 tahun, bila diperoleh dari budidaya.
·         Berukuran 15 cm, bila diperoleh dari hasil tangkapan.
·         Tidak cacat.
Pada usaha besar diperlukan berkisar 100.000-200.000 ekor. Benih harus diseleksi, meliputi umur dan ukuran. Bila umur dan ukuran belum cukup akan menghasilkan cairan mutiara (narce) yang kurang baik. Dipelihara dalam rakit pemeliharaan supaya mudah dalam penanganan.

b.         Perlengkapan dan Peralatan Operasi
1)         Perlengkapan Operasi
·   Rumah Operasi
·   Meja Opearsi
·   Meja Tiram
·   Bak Operasi
2)         Peralatan operasi untuk pemasangan inti
            (1) Standar operasi (kai dae)
Berbentuk seperti tangan yang bagian ujungnya membuka, berfungsi untuk menjepit tiram yang akan dioperasi agar tidak goyah.
(2) Pembuka mantel (hera)
Berbentuk pipih tumpul bergagang lurus. Untuk membuka mante dari cangkang.
(3) Pisau pemotong (shaibo mesu)
Berbentuk lurus dan bagian ujung tajam agak membengkok. Untuk membuat potongan mamtel.
(4) Pinset (pinseto)
Penjepit seperti huruf ”V”, untuk menjepit atau mengambil kotoran yang terdapatdalam tubuh tiram.
(5) Penahan (hikake)
Berbentuk lurus dengan ujung melengkung bulat, untuk menahan bagian kaki tiram saat melakukan torehan.
(6) Forsep (kai koki)
Bentuk seperti tang (catut) tapi berfungsi kebalikannya, untuk membuka cangkang.
(7) Pisau operasi (mesu)
Bentuk seperti sabit yang diberi tangkai panjang, yang tajam pada bagian ujungnya, untuk membuka irisan pada bagian tubuh yang akan dipasang inti.
(8) Gunting pemotong (shaibo hasami)
Gunting kecil bertangkai panjang, untuk mengguning mantel.
(9) Pemasuk inti (sonyuki)
Bentuk seperti tongkat berujung bundar dan bagian tengahnya berlubang untuk memasukkan inti setengah bulat dan bentuk ujung bengkok sedikit dan seperti cangkir, untuk memasuk inti bulat.
(10) Pemasuk mantel (shaibo okuri)
Seperti pisau poperasi berujung tumpul, untuk memasukkan potongan mantel ke dalam organ yang telah ditoreh.
(11) Baji
Terbuat dari kayu, berbentuk segitiga tipis dibaian ujungnya, untuk mempertahankan terbukanya cangkang.
(12) Pembuka torehan (donyuki)
Seperti penahan, untuk menahan terbukanya torehan agar mudah dalam memasukkan inti.
(13) Inti
(14) Alat ronsen
Diperlukan bagi usaha skala besar, untuk memanau kondisi inti yang telah dipasang, apakah masih dalam posisi semula atau telah dimuntahkan. Cara ini tiran yang dipelihara benar-benar mempunyai peluang besar untuk menghasilkan mutiara. Pada usaha skala kecil cara ini kurang menguntungkan karena harganya mahal.
  1. Pemeliharaan Tiram Pasca Operasi
a.         Pemeliharaan Tiram yang telah dioperasi
Tiram yang telah dioperasi masa pemeliharaannya merupakan masa yang menentukan, baik untuk proses kesembuhan tiram dam mutiara yang akan dihasilkan. Tiram pasca operasi dipelihara pada rakit pemeliharaan yang dibagi dalam tiga kelompok bagian:

(1)   Rakit Operasi (RO)
Digunakan untuk memelihara tiram yang baru saja dioperasi. Berada pada air yang paling lamban dan berhubungan langsung dengan rumah operasi. Menghindari dari perlakuan yang dapat menimbulkan stres yang perlu masa istirahat. Lamanya sekitar luka yang dioperasi sembuh antara 10-15 hari.
(2)   Rakit Pemeliharaan Sementara (RPS)
Masa yang menentukan dalam pelapisan mutiara bundar. Penanganan yang ceroboh bisa menimbulkan tidak meratanya pelapisan inti dan dapat keluarnya inti atau dimuntahkan oleh tiram. Lamanya lebih kurang 45 hari.
Yang dilakukan pada masa ini adalah membolak-balikkan keranjang tiram setiap 3 hari sekali dengan posisi yang berbeda-beda.
(3)   Rakit Pemeliharaan Tetab (RPT)
Masa ini posisi tiram dibalik menjadi posisi dorsal dibawah dan ventral diatas, selama 45 hari atau sampai saatnya dirontgen lagi pada usaha besar.
Berdasar pengalaman tiram yang telah dipelihara setelah pascaoperasi sekitar 40%-55% tiram yang mengandung inti, 25%-35% dimuntahkan dan mati sekitar 20%-30%. Penanganan tiram yang mati diangkat dan diambil cangkangnya, yang memuntahkan inti dipelihara untuk operasi mutiara setengah bulat, yang masih berinti dilanjutkan ke rakit pemeliharaan tetap (RPT) hingga panen sekitar 1,5-2 tahun. Diharapkan lapisan mutiara cukup tebal minimal 1 mm, sehingga tidak mudah pecah. Pakan tiram berasal dari plankton yang cukup diperairan tersebut.
3.   Hama dalam Pemeliharaa Tiram Mutiara
Hama yang sering memakan tiram adalah sidat (Anguila japonica), gurita (Oktopus vulgaris), globe fish (Spaeroides spp), black porgy (Sparus melecephalus) dan berbagai jenis ikan yang lainnya. Beberapa jenis kepiting dan ranjungan sering memakan tiram yang masih muda. Kehadiran teritip (Balanus trigonus) juga cukup mengganggu, menempel pada engsel dan permukaan cangkang, menyerap makanan yang diperlukan tiram. Dari jenis cacing-cacingan, rumput laut. Untuk menghindari hama diperhatikan kebersihan tiram dan keranjang, menghindari perlakuan yang kasar terhadap tiram yang dapat menyebab stres.


PEMANENAN DAN PENANGANAN HASIL
Penanganan hasil pasca panen merupakan penentu harga yang tidak bisa diremehkan. Penanganan yang kurang cermat dapat, cepat dan tepat akan berakibat merosotnya harga penjualan. Mutiara merupakan hasil perikanan yang tidak mudah busuk, walau pun sama-sama hasil perikanan.
Yang perlu diperhatikan adalah kecermatan dan ketepatan penanganan saat panen agar tidak mengurangi mutu yang di hasilkan.
Cara memanen mutiara dapat dilakukan sebagai berikut:
(1)        Tiram yang masih ada dalam keranjang dibawa kerumah operasi.
(2)        Tiram dimasukkan kedalam bak panen agar cangkangnya cepat membuka.
(3)        Tiram yang telah membuka cangkangnya di baji agar tetap membuka dan dibersihkan kotoran yang menempel dengan parangdan disikat dengan ijuk.
(4)        Bila sudah bersih, diletakkan pada bagian penjepit operasi dengan posisi anterior menghadap ke peugas pengambil inti.
(5)        Bagian insang yang menutupi organ tubuh yang mengandung mutiara disisihkan, sehingga mutiara kelihatan ampak menonjol dengan sediki bercahaya.
(6)        Untuk memudahkan dalam pengambilan mutiara, organ tersebut di buat sayatan dengan pisau operasi.
(7)        Sayatan yang terbuka, mutiara dapat dikeluarkan dan dipasang inti kembali.
(8)        Pemasangan inti baru dapat dilakukan pada bekas luka lama atau membuat lokasi inti yang baru.

Berkhirnya pemasangan inti yang kedua ini tidak perlu diadakan masa masa pemeliharaan sementara (tento) seperti masa operasi yang pertama. Demikian pula rontgen karena tiram yang sudah besar dirasakan terlalu berat. Bagi mutiara blister mutiara sudah menempel kuat pada cangkang, biasanya tiram langsung dimatikan karena sudah tidak dapat digunakan lagi.

Penanganan Hasil Mutiara
a.         Mutiara Bulat
Penanganan dilakukan harus secermat mungkin dan teliti akan menghasilkan mutiara dengan warna yangn indah dan tidak mudah pudar. Penanganan yang kurang baik dapat menghasilkan mutiara yang pudar. Sebab mutiara yang baru di panen masih mengandung lendir dan diselimuti air laut yang bisa memudarkan warna dan cahaya mutiara. Langkah-langkahnya sebagai berikut:
(1) Mutiara yang baru keluar dari tubuh tiram dicuci denganair tawar sampai bersih.
(2) Dilap dengan kain katun yang diberi garam halus.
(3) Selanjutnya mutiara diangin-anginkan sampai kering, tapi jangan dijemur.
(4) Setelah kering,  disimpan ditempat yang tidak lembab dan dibentuk menjadi beraneka hiasan.
b.         Mutiara blister
            Hal yang menarik dari mutiara blister adalah dapat menggunakan overtone atau warna dasar yang disukai konsumen. Mutiara blister yang masih menempel pada cangkang maka harus dilepaskan dari cangkangnya dalam keadaan yang baik dan utuh. Cara penanganannya sebagai berikut:
(1) Mutiara yang menempel pada cangkang digores dengan alat bor bermata intan secara melingkar sepanjang tepian mutiara hingga mutiara dapat dilepaskan.
(2) Mutiara yang lepas dan inti dikeluarkan sehingga mutiara berlubang, yang tinggal lapisan mutiara mutiaraberbentuk setengah lingkaran.
(3) Bagiang yang berlubang dibersihkan dengan air keras (HCl).
(4) Pada Bagian yang berlubang dilapisi dengan overtone, dan ditutub dengan inti yang baru.
(5) Agar membentuk lingkaran yang penuh maka ditutub dengan bagian cangkang yang bentuknya setengah bulat datar dengan luas lingkaran yang disesuaikan dengan luas lingkaran dasar blister untuk direkat dengan lem yang telah disediakan.
(6) Cangkang yang menempel dihaluskan dan dibentuk melengkung agar lebih halus dan seperti mutiara bulat.

[PERIKANAN]: Budidaya Tiram Mutiara (bagian 3)

PENYEDIAAN BENIH TIRAM MUTIARA

Kelangsungan usaha benih tiram mutiara tidak terlepas dri kesediaan yang memenuhi syarat, baik jumlah, kualitsa maupun ukurannya. Terbatasnya jumlah benih yang diperlukan jelas akan menimbulkan kesenjangan produksi mutiara. Ukuran benih tiram juga merupakan faktor penentu keberhasilan dalam pemasangan inti. Benih dalam usaha budidaya tiram mutiara adalah tiram yang mempunyai panjang di atas 15 cm dan biasanya telah berumur 2 – 3 tahun, sehingga kuat untuk dipasang inti. Sedangkan tiram yang masih berada di bawah umur tersebut dengan panjang kurang dari 15 cm masih perlu dipelihara lebih lanjut agar siap dipasang inti.  

Benih umumnya diperoleh dari usaha penangkapan di laut dan usaha pembenihan atau budidaya. Yang paling menonjol dari usaha penangkapan, selain telah berkualitas baik dan ukuranya pun sudah cukup besar sejak penangkapan yang telah teseleksi. Usaha pembenihan belum negitu menonjol terutama di Indonesia.

1.    Benih alam
Lautan Indonesia merupakan kekayaan hayati yang cukup potensial, tidak terkecuali tiram mutiara. Melimpahnya sumber benih tiram mutiara di laut, masih dapat diandalkan sebagai sumber utama pemasok benih dari perusahaan- perusahaan mutira di Indonesia. Benih biasa ditangkap pada bulan November-April, selama enam bulan berturut-turut. Bertepatan dengan musim barat dan musim hujan disertai dengan hujan dan gelomban yang cukup besar. Berdasar pengalaman paranyelam pada saat inilah kondisi dasar perairan cukup jernih, sehingga tiram tampak lebih jelas, terutama pada perairan dalam. Hasil tangkap ditampung dalam keranjang dan diangkut dengan kapal untuk diseleksi berdasarkan ukuran.
Data terakhir harga seekor tiram mutiara berdasar ukuran dari beberapa daerah sebagai berikut:
*Ukaran 15 cm ke atas (large) berkisar Rp 13.500-Rp 15.000,-
*Ukuran 13 cm-15cm (mature) berkisar Rp 12000-Rp 13.500,-
*Ukuran 10 cm-13 cm (medium) berkisar Rp 10.000-Rp 12.000,-
*Ukuran 10 cm kebawah (chiken) berkisar Rp 7.000-Rp 10.000,-

2.    Benih pembibitan dan usaha budidaya
a.         Benih pembibitan
            Walau pun benih tiram mutira di laut melimpah jika diekploitasi terus , lama-lama pasti akan menurun, bahkan bisa punah. Dengan usaha penbenihan dan budidaya kelestarian sumber benih akan selalu terjaga, disamping menunjang kebutuhan benih usaha mutiara.
Usaha pembenihan tiram mutiara bersksla massal yang dilakukan dengan pemijahan buatan, proses pelaksanaannya sebagai berikut:

1)         Pemilihan induk dan pemeliharaannya
-           Induk yang digunakan dipilih yang sudah matang kelamin dengan panjang diatas 20 cm.
-           Induk diperoleh dari laut atau telah dipelihara dalam rakit.
-           Induk dipelihara dalam bak kusus, suhu antara 27oC-28oC.
-           Induk diberi pakan campuran alga dan tepung jagung dengan dosis 4lt/ekor/hari dan 30mg/ekor/hari. Pakan diberi sehari dua kali, yaitu pagi dan sore.

2)         Pemijahan
            Dilakukan dengan dua cara, yaitu dengan pendekatan lingkungan dan secara kimiawi:
v  Pendekaan lingkungan yang sering diliakukan adalah dengan thermal stimulation atau mengadakan perubahan suhu secara bertahap dari 28oC sampai 35oC, hingga tiram memijah atau dengan mengalirkan air laut secera terus-menerus.
v  Pemijahan dengan bahan kimia dengan menuntikkan ammonium hidroksida 0,2 ml ke dalam otot adduktor tiram mutiara aau dengan campuran hidrogen peroksida 3-6 ppm dengan air laut ber ph 9,1.
v  Pembuahan (fertilisasi) terjadi secara eksternal dalam media air didahului dengan pengeluaran sperma dari tiraam yang jantan, telur keluar 45 menit kemudian dengan diameter ±47,5 mikron.

3)         Pnyediaan pakan
            Pakan utama larva tiram adalah dari jenis alga Isochrysis galbana dan Monochrysis lutheri sebagai makanan awal.

4)         Pemeliharaan dan spat
            Larva lebih menyuikai tempat gelap dan remang-remang, maka tempat pemeliharaan di tutup dengan plastik gelap. Kepadatannya ±200 ekor /liter. Kepadatan yang tinggi akan mengurangi pertumbuhan normal, dan bisa kematian.
            Larva ukuran benih (spat), dipindahkan ke bak pendederan, dengan kepadatan 100-150 ekor/ liter dan pakannya alga jenis Cchaeoceros sp. Umur 60 hari siap dipelihara pada empat pembesaran, dengan sirkulasi air tetap dipertahankan. Untuk menghilangkan kotoran yang menempel yang dapat mempengaruhi pertumbuhan spat.
            Untuk ukran benih yang siap di operasi, spat perlu dipelihara pada raki terapung hingga berumur 2 tahun.

b.         Usaha budidaya
            Spat (benih) yang digunakan untuk pembesaran diperoleh dari hachery (penmbenihan) aau dikumpulkan dari alam. Ukuran spat minimal 20 mm, sehinggga kuat terhadap gelombang dan arus laut.

1)         Tempat pembesaran
            Dapat dilakukan dengan dua metode, yaitu metode rakit apung dan metode palang cagak silang. Keduanya mempunyai fungsi yang sama sebagai tempat menggantungkan spat. Hanya penerapannya disesuaikan dengan kedalaman perairan. Yang dangkal digunakan metode palang cagak silang, efesien dan praktis. Untuk laut yang dalam digunakan metode rakit apung.

2)         Keranjangn Pemeliharaan
            Spat dipelihara di keranjang-keranjang pemeliharaan yang digantung dirakit atau pada palang cagak silang. Yang terbuat dari kawat tahan karat atau jaring yang dibuat rajut.

3)         Cara pemeliharaan
            Benih dimasukkan kedalam keranjang , di gantung pada kedalaman 1,5-5m. Benih yang kecil kurang dari 5 cm dipelihara pada kedalaman 2-3m. diatas 5cm dapat dipelihara pada kedalaman lebih dari 4m. Tiram tidak diberi pakan khusus tapi mengandalkan pakan alami, untuk itu perlu perairan yang tinggi kesuburannya. Tiap 3-4 bulan tiram perlu dibersihkan dari segala bentuk kotoran yang menempel pada tiram dan yang menempel pada keranjang pemeliharaan. Dan perlu juga dijaga dari kerusakan untuk diperbaiki sampai panen tiba.

[PERIKANAN]: Budidaya Tiram Mutiara (bagian 2)

Bagian penting yang harus kita lakukan sebelum memulai swuatu usaha budiadaya adalah mencari dan meniali calon lokasi yang akan dijadikan tempat pemeliharaan. Pemilihan lokasi tentu tidak sedikit biaya yang dikeluarkan. Tetapi biaya itu bila dibandingkan dengan resiko dan keuntungan yang akan didapatmasih belum seberapa. Usaha budidaya tiram mutiar a memang memerlukan investasi yang cukup besar, maka demi keselamatandan kesinambungan usaha, lokasi budidaya hendaklah dipilih yang benar – benar memenuhi persaratan, dengan mempertimbangkan hal – hal berikut :

1.    Faktor Alam
Laut sebagai bagian dari lokasi usaha dan sangat terbuka dengan 0-pengaruh luar, maka faktor – faktor alam seperti hujan, badai, gelombang, pasang surut. Merupakan hal – hal yang perlu dipelajari. Faktor – faktor alam tersebut tidak bisa dikendalikan oleh tangan – tangan terampil ataupun alat – alat yang serba canggih. Oleh karena itu kalau kita ingin selamat dan berhasil dalam membudidayakan tiram mutiara, faktor alam harus terus mendukung lokasi budidaya. Prinsip budidaya di alam terbuka seperti laut adalah menselaraskan antara kebutuhan biologis dan fisiologis dari hewan yang dipelihara dengan kondisi alam atau lingkungan sebagai media hidup, sehingga didapatkan suatu kehidupan yang baik dan pertumbuhan  yang normal.
Lokasi yang memenuhi syarat dalam hubunganya dengan faktor alam tersebut adalah sebagai berikut :
Ø  Terlindung dari pengaruh angin musim, gerakan arus dan gelombang yang besar.
Ø  Bebas dari pengaruh sumber banjir yang dapat menimbulkan kekeruhan dan perubahan salinitas.
Lokasi yang memenuhi persyaratan tersebutn biasanya dijumpai pada laut yanga terletak diantara pulau – pulau kecil atau teluk.

2.    Sumber Pencemaran
Limbah penduduk, pertanian maupun industri sebenarnya merupakn sumber pencemaran yang sangat membahayakan bagi kehidupan tiram mutiara. Berbagai bentuk limbah rumah tangga yang berupa sisa – sisa makanan, detergen,  bsaik berbentuk padat maupun cair serta berbagai macambahan – bahan lainya yang berasal dari berbagai aktivitas manusia, seringkali menjadi sumber penyakit yang serius bagi tiram yang dipelihara. Oleh karena itu, lokasi hendaklah dipilih yang agak jauh dari pengaruh bahan – bahan pencemar, terutama dari pusat – pusat pemukiman penduduk.
Yang tidak kalah bahayanya  adalah limbah yang berasal dari kegiatan industri, terutama industri – industri yang memakai bahan – bahan kimia. Biasanya limbah dari kegiatan tersebut merupakan bahan pencemar yang sangat membahayakan bagi kehidupan berbagai macam hewan air termasuk tiram mutiara. Oleh karena itu pemilihan lokasi untuk budidaya tiram mutiara harus jauh dari daerah perindustrian.

3.    Keamanan
Pencurian dan sabotase merupakan suatu hal yang sering terjadi dalam budidaya ikan, baik itu di darat maupun di laut, tidak terkecuali budidaya tiram mutiara. Apalagi budidaya di laut yang menyangkut kepentingan bersama bagi pemakai laut, yakni untuk keperluan pelayaran, penangkapan ikan, dan sebagainya sehingga rawan terhadap pencurian dan pencemaran. Oleh karena itu pemilihan lokasi juga harus memperhatikan kepentingan – kepentingan tersebut, terutama menghindari wilay yang menjadi pusat kegiatan manusia. Biasanya yang terlalu dekat dengan alur pelayaran akan terpengfaruh oleh minyak ataupun bahan pencemar lain dari kapal atau perahu yang berlayar.

4.    Sarana Penunjang
Untuk memperlanjar jalanya kegiatan pembudidayaanmaupun pemasarn kelak, maka saran penunjang seperti listrik dan sarana komunikasi sangat penting untuk diperhatikan. Disamping itu kemudahan tempat tinggal yang lebih dekat dengan lokasi usaha juga perlu diperhatikan agar memudahkan pengelolahan dan penjagaan. 

5.    Faktor Lingkungan
Kondisi dan kualitas air di lokasi budidaya sangat besar pengaruhnya terhadap pertumbuhan, ukuran dan kualitas mutiara. Kondisi dan kualitas air yang perlu diperhatikan adalh sebagi berikut :

a.    Dasar Perairan
      Dasar perairan secara fisik maupun kimia berpengaruh  besar terhadap sususnan dan kelimpahan organisme di dalam air termasuk bagi kehidupan tiram mutiara.
      Adanya perubahan tanah dasar (sedimen) akibat banjir yang menyebabkan dasar perairan tertutup lumpur   sering menimbulkan kematian pada tiram yang masih muda. Oleh karena itu dasar perairan yang berpasir atau berlumpur tidak layak untuk lokasi budidaya tiram mutiara. Dasar perairan yang cocok yaitu dasar perairan yang berkarang atau mengadung pecahan – pecahan karang. Bisa juga dipilih dasar perairan yang terbentuk akibat gugusan karang yang sudah mati atau gungungan – gunungan karang.

b.    Kedalaman
      Kedalam yang cocok untuk budidaya tiram mutiara ialah berkisar antara 15 m sampai dengan 20 m. pada kedalaman ini pertumbuhan tiram mutiara akan lebih baik.

c.    Arus Air
       lokasi yang cocok untuk budidaya tiram mutiara adalah yang terlindung dari arau yang kuat. Disamping itu pasang surut yang terjadi mampu menggantikan massa air secara total dan teratur, sehingga ketersediaan oksigen terlarut maupun plankton segar dapat terjamin.

d.    Salinitas
      Sebenarnya tiram mampu bertahan hidup pada kisaran salinitas yang luas, yaitu antara 200/ 00  - 500/ 00.  Tetapi salinitas terbaik untyuk pertumbuhan tiram mutiara adalah  320/ 00  - 350/ 00.  

e.    Suhu
      Untuk negara kita sendiri yang beriklim tropis, pertumbuhan yang terbaik dicapaim apad suhu antara 280C  - 300C pada iklim ini ternnyata sangat menguntungkan untuk budidaya tiram mutiara, sebab pertumbuhan lapisan mutiara dapat terjadi sepanjang tahun. Sedangkan negara yang memiliki empat musimm biasanyapertumbuhan tiram mutiara tidak terjadi sepanjang tahun, karena pada suhu air di bawah 130C (musim dingin) pelapisan mutiara atau penimbunanan zat kapur akan terhenti.

f.     Kecerahan
      untuk keperluan budidaya tiram mutiara selayaknya dipilih lokasi yang mempunyai kecerahan antara 4,5 m – 6,5 m, sehingga kedalaman pemeliharan bisa diusahakan anatar 6 m – 7m. Sebab biasanya tiram yang dibudidayakan diletakakn di bawah kedalaman atau pecahan rata – rata. 

g.    Kesuburan Perairan
      Tiram sebagai binatang yang tergolong filter feeder hanya mengandalkan makanan dengan menyerap plankton daroi perairan sekitar, sehingga keberadaan pakan alami akan memegang peranan yang sangat penting. Sedangkan keberadaan pakan alami itu sendiri sangat berkaitan erat dengan kesuburan suatu perairan.


[PERIKANAN]: Budidaya Tiram Mutiara (bagian 1)

Sebelum pola pemikiran manusia maju dan teknologi belum berkembang., boleh dikatakan hanya orang – orang tertentu saja yang dapat menemukan mutiara. Sebab tidak sembarang tempat mutiara dapat ditemukan, benar – benar sangat tyersembunyi yaitu dalam tubuh hewan/binatang yang hanya biasa hidup di dalam air. Dan itu pun tidak sembarang hewan mempunyainya, tetapi biasan hidup di air laut dan golongan kerang – kerangan atau kijing yang biasa hidup air tawar.

Mutiara yang sekarang beredar di di pasaran, sebenarnya ada dua jenis, yaitu yang asli dan dan imitasi atau tiruan. Tentu saja harganya pun sangat jauh berbeda. Mutiara yang asli pun dapat dibedakan menjadi dua yaitu mutiara alam yang dibentuk secara alami dalam tubuh tiram dan mutiara budidaya yang sengaja diusahakan oleh manusia melalui proses budidaya. Sedangkan mutiara imitasi atau tiruan adalah mutiara yang dibuat langsung dari bahan gelas atau plastik yang diberi lapisan dari sisik ikan layur yang berwarna putih mengkilat.

Permasalahnya sekarang adalah adanya kendala dalam pengembangan budidaya tiram mutiara di indonesia yakni langkanya tenaga ahli kita yang berkecimpung  dalam bidang mutiara ini. Hal ini terbukti dari banyak perusahaan mutiara yang sebagian besar adalah patungan dengan perusahaan jepang. Padahal budidaya tiram mutiara ini mempunyai prospek yang sangat cerah  dan dapat ddiandalkan sebagai sumber devisa negara di masa yang akan datang sekaligus dapat menunjang program pemerintah dalam pemetaan kesempatan kerja dan penciptaan lapangan kerja baru bagi angkatan kerja di indonesia.

Oleh kerena itu, kiranya tepat dan sangat bijaksana apabila budidaya tiram mutiara ini tersu dipacu dan digalakan pengembangannya. Di negara – negara yang telah maju dalam pembuatan mutiara budidaya seperti jepang, industri mutiara tidak saja dilakukan oleh perusaha – perusahanan besar, tetapi sudah mengarah kepada industri skala rumah tangga yang dapat dilakukan oleh anggota keluarga.

1.    Klasifikasi
Tiram mutiara memeliki cangkang yang tidak simestris fdan sangat keras, tetapi seluruh organ tubuhnya sama sekali tidak bertulang dan sangat lunak. Tiram mutiara (Pinctada maxima) secara taksonomi dimasukkan ke dalam king dom invertebrata, yang berarti hewan tidak bertulang belakang dan phyllum Mulusca yang berarti bertubuh lunak.
Secara rinci, jenis tiram mutiara dapat diklasifikasikan sebagai berikut:
      Kingdom          : Invertebrata
      Phylllum          : Mulusca
      Kalss               :  Pellecypoda atau lamellibranchiata
      Ordo               : Anysomyaria
      Famili              : Pteridae
      Genus             : Pinctada
      Spesies           : Pinctada sp dan Pteria sp

2.    Morfologi dan Anatomi
Bentuk luar tiram mutiara tampak seperti batu karang yang tidak ada tanda – tanda kehidupan. Tetapi di balik kekokokhan tersebut terdapat organ yang  dapat mengatur segala kativitas kehidupan dari tiram mutiara itu sendiri. Dalam kelunakan tubuh tiram tersebut terdapat cangkang yang keras untuk melindungi bagian tubuh agar terhindar dari benturan maupun serangan hewan lain. Di samping itu, dalam cangkang yang jumlahnya satu pasang dan mempunyai bentuk yang berlainan itu terdapat mother of pearl atau lapisan induk mutiara serta nacre yang dapt membentuk lapisan mutiara.
Jika dilihat zat penyusunnya maka lapisan pada cangkang tiram di bagi 3 lapisab yaitu:
1.    Lapisan periostrakum
Adalah lapisan kulit luar yang kasar yang tersusun dari zat organik yang menyerupai tanduk.
2.    Lapisan prismatik
Adalah lapisan kedua yang tersusun dari kristal – kristal kecil yang berbentuk prisma dari hexagonal calcite.
3.    Lapisan mutiara atau nacre
Adalah lapisan kulitsebelah dalam yang tersusun dari kalsium karbonat (CaCo3).

Namun secara umum, organ tiram mutiara dapat dibagi menjadi tiga bagian yaitu kaki, matel dan organ dalam.
a.    Kaki
Digunakan untuk bergerak terutama waktu masih muda. S4elain itu, kaki tiram juga berfungsi untuk membersihkan kotoran yang mungkin menempel pada insang maupun mantelnya.
b.    Mantel
Matel merupakan jaringan yang dilindungi oleh sel – sel epihelial dan dapat membungkus organ bagian dalamj. Letaknya berada di antara cangkang bagian dalam atau epithel luar dengan organ dalam atau mass viseralis.
c.    Organ Dalam
Bagian ini letaknya agak tersembunyi setelah mantel dan merupakan pusat aktivitas kehidupanya yang terdiri dari : insang, mulut, jantung, susunan saraf, alat perkembangbiakkan, otot, lambung , usus dan anus.

3.    Kebiasaan Hidup
Tiram mutiara jenis Pinctada sp yang abanyak dijumpai di berbagai n4egara seperti filipina, thailand, birma, Australia dan Perairan Indonesia. Sebenranya tiram jenis ini lebih menyukai hidup di daerah batuan karang atau dasar perairan yang berpasir. Di samping itu banyak di jumpai pada ke dalaman antara 20 m – 60 m. 
Berbeda dengan jenis ikan yang lain, cara makan tiram mutiara ini di lakukan dengan menyaring air laut. Sedangkan cara mengambil makannanya dilakukan dengan menggetarkan insang yang menyebabkan air masuk ke dalam rongga mantel. Kemudian dengan menggerakkan bulu insang, masa plankton yang masuk akan berkumpul di sekeliling insang. Selanjutnya melaui gerakan labial palp plankton akan masuk ke dalam mulut.
Pertumbuhan tiram mutiara biasanya sangat tergantung pada temperatur air, salinitas, makanan yang cukup dan persentase kimia dalam air laut. Pada musim panas, dimana suhu naik, tiram mutiara dapat tumbuh secara maksimal. Namun jika suhu dan salinitsa sepanjang tahun stabil dengan kondisi lingkungan yang ideal, maka pertumbuhan pun akan stabil pula, dengan pertambahan maksimum bisa mencapai 1 cm per bulan.
Perbedaan salinitas pada permukaan dan di bawahnya akibat hujan lebat dapat menyebabkan kerusakan populasi tiram mutiara secara alami (bersambung).